Mimika – Upaya menjaga keamanan dan keharmonisan masyarakat di wilayah Kapiraya terus didorong melalui pendekatan humanis Kapirayaifan lokal. Kepala Suku Besar Mee Papua Tengah, Melkias Moyapa, mengajak seluruh pihak, termasuk Pemerintah Provinsi Papua Tengah serta pemerintah daerah terkait, untuk bersinergi dalam menyelesaikan persoalan tapal batas secara damai dan bermartabat.
Melkias menegaskan bahwa situasi di Kapiraya perlu disikapi dengan bijak agar tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Ia memastikan bahwa persoalan yang terjadi merupakan murni urusan adat terkait batas wilayah antara Suku Mee dan Suku Kamoro, sehingga penyelesaiannya harus mengedepankan dialog, persaudaraan, dan nilai-nilai kemanusiaan.
“Permasalahan ini bukan untuk diperdebatkan secara emosional, melainkan diselesaikan dengan hati yang tenang dan penuh rasa kekeluargaan,” ujarnya melalui sambungan telepon, Senin (23/3).
Sebagai tokoh adat, Melkias menekankan pentingnya menjaga stabilitas keamanan sebagai fondasi utama kehidupan masyarakat. Ia mengajak seluruh elemen, baik masyarakat maupun pemerintah, untuk bersama-sama menciptakan suasana yang kondusif agar aktivitas sosial dan pembangunan dapat berjalan dengan baik.
Dalam pertemuan sebelumnya di Timika, ia juga mendorong peran aktif pemerintah sebagai fasilitator dan mediator yang menjembatani dialog antar suku. Menurutnya, terdapat tiga langkah penting yang perlu dilakukan secara seimbang dan humanis.
Pertama, penegakan hukum secara adil untuk memastikan setiap tindakan yang melanggar aturan dapat diselesaikan secara transparan dan memberikan rasa keadilan bagi semua pihak.
Kedua, pemulihan kemanusiaan melalui perhatian terhadap masyarakat terdampak, termasuk upaya membangun kembali rumah warga yang terbakar sebagai bentuk kepedulian dan perlindungan terhadap hak dasar masyarakat.
Ketiga, penguatan peran lembaga adat dengan melibatkan para Kepala Suku, tokoh agama, dan Lembaga Masyarakat Adat (LMA) dalam musyawarah mufakat guna mencapai kesepakatan damai yang berkelanjutan.
“Kita semua bersaudara. Sudah saatnya kita duduk bersama, menyelesaikan persoalan ini dengan mengedepankan nilai kemanusiaan dan ajaran Tuhan, tanpa konflik yang merugikan semua pihak,” tegasnya.
Melkias juga menyampaikan harapan kepada tokoh-tokoh masyarakat Suku Kamoro agar bersama-sama membuka ruang dialog adat yang damai, demi terciptanya keamanan dan persatuan di wilayah Kapiraya.
Dengan semangat kebersamaan, pendekatan humanis, serta penghormatan terhadap adat dan budaya lokal, diharapkan situasi di Kapiraya tetap aman, damai, dan menjadi contoh penyelesaian konflik yang bermartabat di Tanah Papua.








