Home / Pertanian / Wanam Didorong Jadi Sentra Pangan untuk Perkuat Ketahanan Pangan Papua

Wanam Didorong Jadi Sentra Pangan untuk Perkuat Ketahanan Pangan Papua

Jakarta, 4 September 2026 — Pemerintah mendorong pengembangan kawasan pangan Wanam di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, sebagai salah satu sentra produksi yang dapat memperkuat kemandirian pangan sekaligus memperluas pemerataan akses pangan di Tanah Papua.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan optimalisasi kawasan Wanam di Distrik Ilwayab, Merauke, diharapkan mampu memenuhi kebutuhan beras masyarakat Papua dari produksi wilayah sendiri.

“Kalau ini bisa berjalan dengan baik maka nanti seluruh Papua berasnya cukup dari Wanam, dari Merauke,” kata Zulhas saat peluncuran buku Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul dalam rangkaian IdeaFest 2026 di Jakarta, Jumat.

Menurut Zulhas, penguatan ketahanan pangan tidak cukup hanya dilihat dari kemampuan produksi secara nasional. Kondisi geografis Indonesia yang luas membuat harga dan akses terhadap sejumlah komoditas pangan berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Ia mencontohkan harga telur yang di Jakarta berada pada kisaran Rp25.000 hingga Rp28.000 per kilogram, sementara di Maluku dan Papua dapat mencapai sekitar Rp60.000 per kilogram.

Perbedaan harga tersebut, kata Zulhas, menunjukkan pentingnya peningkatan kapasitas produksi di setiap wilayah sehingga ketersediaan pangan tidak hanya mencukupi secara nasional, tetapi juga dapat dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat di daerah.

“Nah oleh karena itu tadi berbasis wilayah itu harus swasembada,” ujarnya.

Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan Dirgayuza Setiawan yang hadir dalam forum tersebut menambahkan bahwa keberhasilan mencapai swasembada pangan secara nasional belum otomatis membuat seluruh daerah mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri.

“Jadi kita secara nasional hari ini sudah swasembada delapan komoditas pangan. Tapi kalau kita lihat per daerah masih banyak sekali daerah yang belum swasembada pangan,” kata Dirgayuza.

Delapan komoditas yang disebut telah mencapai swasembada nasional tersebut meliputi beras, jagung, cabai besar, cabai rawit, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.

Dirgayuza memberikan contoh kebutuhan ayam di Nusa Tenggara Timur yang masih harus dipasok dari Jawa Timur karena produksi lokal belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Ia menilai produksi pangan di masing-masing daerah juga menjadi faktor penting untuk menjaga ketersediaan pasokan ketika terjadi gangguan distribusi, termasuk akibat bencana alam.

“Karena ketika terjadi bencana, (contohnya) jembatan putus, kita enggak bisa semudah itu mengirimkan logistik dari sentra-sentra produksi pangan kita ke daerah-daerah bencana,” ujarnya.

Sementara itu, pengembangan Wanam terus dilakukan melalui peningkatan produksi dan pembangunan infrastruktur pendukung. Saat meninjau kawasan tersebut pada Juli 2026, Zulhas menyebut dari sekitar 10 ribu hektare lahan sawah yang tersedia, sekitar 1.200 hektare telah ditanami padi dan diproyeksikan memasuki masa panen pada September atau Oktober 2026.

Pembangunan infrastruktur pendukung juga berjalan. Pemerintah telah mengerjakan jalan sepanjang 58 kilometer dan mempersiapkan pembangunan bandar udara serta pelabuhan untuk menunjang aktivitas kawasan tersebut.

Percepatan pembangunan kawasan swasembada pangan, energi, dan air nasional sebelumnya diatur melalui Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 2025 dan kemudian diperkuat dengan Instruksi Presiden Nomor 16 Tahun 2025 tentang Penguatan Percepatan Pembangunan Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional.

Zulhas mengatakan apabila produksi pangan dari Wanam nantinya mampu melampaui kebutuhan masyarakat Papua, hasil produksi tersebut berpotensi turut menopang kebutuhan pangan di wilayah Maluku dan Nusa Tenggara Timur.

Dengan demikian, pengembangan sentra produksi berbasis wilayah diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan nasional, tetapi juga mengurangi ketimpangan ketersediaan dan akses pangan antardaerah.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *