Home / Uncategorized / Ratusan Guru Program Mapega Dikirim ke Paniai Papua Tengah, Solusi Krisis Pengajar di 55 Sekolah 3T

Ratusan Guru Program Mapega Dikirim ke Paniai Papua Tengah, Solusi Krisis Pengajar di 55 Sekolah 3T

Paniai – Dinas Pendidikan Kabupaten Paniai membekali dan membagikan nota tugas kepada 132 guru kontrak daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T), Jumat (5/6/2026).

Keberadaan guru kontrak ini merupakan inisiasi Pemerintah Provinsi Papua Tengah bertujuan memutus mata rantai krisis tenaga pendidik yang selama ini menghambat mutu pendidikan di wilayah pedalaman.

Pemerintah menerapkan kualifikasi ketat dalam perekrutan para pengajar yang dikenal sebagai guru tenaga yang direkrut melalui program Mapega atau Majukan Pendidikan Gratis Anak.

Calon guru wajib merupakan warga asli kampung setempat dengan seleksi berbasis marga dan memiliki latar belakang pendidikan minimal Sarjana Pendidikan (S.Pd).

Kebijakan guna menjamin keberlanjutan proses belajar karena para guru memiliki ikatan emosional serta budaya yang kuat dengan masyarakat setempat.

Diketahui penugasan ini memprioritaskan jenjang Sekolah Dasar (SD) sebagai fondasi utama pendidikan anak-anak di Kabupaten Paniai.
Dinas Pendidikan Kabupaten Paniai mengalokasikan para pengajar secara proporsional ke 24 distrik berdasarkan tingkat kelangkaan guru di setiap satuan pendidikan.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Paniai, Agus Kobepa, menegaskan pentingnya pembekalan ini sebagai kesiapan mental dan administrasi sebelum penempatan resmi.

Pihaknya memastikan ratusan guru tersebut akan langsung terjun ke lapangan untuk mengaktifkan kembali kelas-kelas yang kosong.

“Guru kontrak berjumlah 132 guru yang kami terima di Kabupaten Paniai, dan di dalam surat pemberitahuannya ada penempatan di 24 distrik yang ada di Kabupaten Paniai,” jelas Agus.

Agus menambahkan bahwa pembagian nota penempatan menyasar 55 sekolah yang selama ini kekurangan staf pengajar.

Sistem distribusi diatur bervariasi antara dua hingga tiga guru per sekolah demi efektivitas proses belajar mengajar.

“Di sekolah-sekolah itu (55 sekoah) memang kami kekurangan guru, maka hari ini kami telah mengisi kekurangan tersebut dengan baik. Setiap sekolah telah kami tempatkan ada yang tiga guru, ada juga yang dua guru,” kata Agus.