NABIRE – Pemerintah Provinsi Papua Tengah kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap masa depan generasi muda Papua. Melalui program bantuan pendidikan gratis, Pemprov Papua Tengah merealisasikan dukungan biaya kuliah bagi ribuan mahasiswa Orang Asli Papua (OAP) dengan total anggaran mencapai Rp8,2 miliar.
Program ini menjadi angin segar bagi mahasiswa yang selama ini harus berjuang membiayai pendidikan tinggi di tengah keterbatasan ekonomi. Bantuan tersebut mulai disalurkan sejak 27 Januari 2026 dan langsung dirasakan manfaatnya oleh mahasiswa aktif di berbagai perguruan tinggi, termasuk Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) Nabire.
Rektor USWIM Nabire, Petrus Tekege, menyebut kebijakan ini sebagai bentuk nyata kehadiran pemerintah daerah dalam mendampingi perjuangan mahasiswa Papua menempuh pendidikan.
“Ini bukan sekadar bantuan dana, tetapi bentuk kepedulian pemerintah agar mahasiswa bisa tetap fokus belajar tanpa dihantui kekhawatiran biaya kuliah,” ujar Petrus Tekege saat ditemui di Kampus USWIM Nabire, Rabu pagi (28/1/2026).
Menurutnya, bantuan ini memberi dampak langsung terhadap kelangsungan studi mahasiswa, khususnya mereka yang tengah menjalani semester aktif. Program tersebut secara khusus menyasar mahasiswa semester ganjil, yakni semester 3, 5, dan 7, di bawah kepemimpinan Gubernur Meki Nawipa dan Wakil Gubernur Deinas Geley.
Rektor menegaskan, bantuan ini tidak ditujukan untuk menutup tunggakan lama, melainkan sebagai stimulus dan penyemangat agar mahasiswa dapat menyelesaikan studi tepat waktu.
“Hari ini mahasiswa bisa kuliah dengan lebih tenang, lebih fokus, dan merasa diperhatikan. Ini sangat berarti bagi anak-anak Papua,” jelasnya.
Di USWIM Nabire sendiri, tercatat 1.967 mahasiswa sebagai penerima bantuan. Hingga hari ketiga penyaluran, sekitar 20 persen mahasiswa telah menerima bantuan sesuai Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua Tengah. Penyaluran dilakukan secara bertahap berdasarkan fakultas dan program studi.
Tahap awal difokuskan pada Fakultas Perikanan, Pertanian, dan Peternakan, kemudian dilanjutkan ke Program Studi Informatika serta fakultas lainnya hingga Februari 2026.
Meski proses penyaluran bertepatan dengan masa libur akademik, pihak kampus memastikan mekanisme tetap berjalan dengan tertib dan akuntabel, mengingat program ini merupakan bagian dari tanggung jawab pengelolaan anggaran daerah.
Pihak USWIM berharap bantuan pendidikan gratis ini dapat menjadi program berkelanjutan di setiap semester, seiring meningkatnya jumlah mahasiswa di Papua Tengah.
“Kami mendorong mahasiswa memanfaatkan bantuan ini sebaik mungkin untuk meningkatkan prestasi, disiplin, dan kualitas akademik mereka,” pungkas Petrus.
Program bantuan pendidikan ini dinilai sebagai langkah humanis dan strategis Pemprov Papua Tengah dalam membangun sumber daya manusia unggul, sekaligus mempertegas komitmen pemerintah daerah dalam mewujudkan visi Papua Tengah Terang 2030.











