TIMIKA, PAPUA TENGAH – Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, mengajak seluruh masyarakat di Kabupaten Mimika untuk menjaga persatuan dan menghentikan konflik antarkelompok yang berulang. Ia menegaskan bahwa pertikaian sesama warga hanya akan menimbulkan korban jiwa, mengganggu stabilitas keamanan, serta menghambat pembangunan daerah.
Seruan tersebut disampaikan Deinas di Timika, Senin, dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-30 Kabupaten Mimika. Menurutnya, momentum tiga dekade Mimika harus menjadi kesempatan bagi seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat kebersamaan dan membangun daerah tanpa diwarnai kekerasan.
“Konflik yang terjadi ini bukan perang suku, tetapi perang saudara, maka harus dihentikan. Kita masyarakat Papua harus menjadi satu. Kalau sesama orang Papua terus berkonflik, kapan Papua ini bisa maju dan berkembang,” ujar Deinas.
Ia secara khusus mengimbau masyarakat, termasuk warga asli Papua yang tinggal di Mimika, agar tidak mudah terlibat dalam pertikaian. Perbedaan kelompok, suku, maupun latar belakang daerah, menurutnya, tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling bermusuhan.
Perhatian terhadap persoalan tersebut tidak terlepas dari konflik antara kelompok Dang dan Newegalen di Distrik Kwamki Narama yang berlangsung sejak Oktober 2025. Meski upaya penyelesaian telah ditempuh melalui mediasi kepolisian dan perdamaian adat, pertikaian sempat kembali terjadi.
Pada 24 Juni 2026, kedua kelompok kembali menyepakati perdamaian melalui ritual adat patah panah dan panah babi di Kampung Amole, Distrik Kwamki Narama. Rangkaian konflik yang berlangsung selama sekitar delapan bulan itu dilaporkan mengakibatkan sedikitnya 17 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa perdamaian tidak cukup hanya diwujudkan melalui kesepakatan adat, tetapi juga harus dijaga melalui komitmen bersama untuk tidak mengulangi kekerasan. Masyarakat diharapkan mengedepankan dialog, menyelesaikan persoalan secara bijaksana, serta menghormati kesepakatan damai yang telah dicapai.
Deinas menegaskan bahwa Mimika merupakan rumah bersama bagi masyarakat dari berbagai suku dan daerah di Indonesia. Karena itu, seluruh warga memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga keamanan dan berkontribusi terhadap kemajuan wilayah tersebut.
“Mimika ini milik semua masyarakat yang ada di sini, dari Sabang sampai Merauke. Tidak memandang kamu dari suku mana, tetapi semua yang tinggal di Mimika harus sama-sama berpikir untuk membangun Mimika di bawah pimpinan bupati dan wakil bupati,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa pembangunan daerah membutuhkan dukungan dan keterlibatan seluruh pihak, mulai dari masyarakat, pemerintah daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK), hingga TNI-Polri. Sinergi antarelemen tersebut dinilai penting untuk menciptakan lingkungan yang aman, menjaga ketertiban masyarakat, dan memastikan program pembangunan berjalan dengan baik.
Selain mengingatkan pentingnya persatuan, Deinas turut memberikan perhatian terhadap persoalan sosial yang dihadapi generasi muda. Ia meminta anak-anak muda di Mimika menjauhi konsumsi minuman keras (miras), terutama secara berlebihan, karena dapat membahayakan kesehatan, memicu perilaku berisiko, serta berpotensi menimbulkan persoalan keamanan dan keselamatan.
“Pada momen HUT ke-30 Mimika ini, saya berpesan kepada generasi muda agar berhenti mengonsumsi minuman keras. Karena ketika miras dikonsumsi secara berlebihan, dampaknya bisa sangat berbahaya, bahkan menyebabkan kematian,” ujarnya.
Deinas juga mengajak generasi muda untuk meningkatkan kesadaran dalam menjaga kesehatan, termasuk menghindari perilaku seksual berisiko sebagai bagian dari upaya pencegahan penularan HIV/AIDS.
Ia menyoroti keberadaan kasus HIV/AIDS di berbagai kabupaten di Papua Tengah dan berharap generasi muda lebih peduli terhadap kesehatan diri serta memahami pentingnya langkah-langkah pencegahan.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, sebanyak 199 kasus baru HIV/AIDS ditemukan melalui pemeriksaan kesehatan masyarakat sepanjang Januari hingga Juni 2026. Dari jumlah tersebut, 134 kasus tercatat pada kelompok usia 15–34 tahun.
Sementara itu, sepanjang 2025, Dinas Kesehatan Mimika mencatat 489 kasus baru HIV/AIDS dari 59.737 orang yang menjalani pemeriksaan.
Menurut Deinas, upaya membangun Mimika tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membutuhkan masyarakat yang sehat, aman, dan mampu hidup berdampingan dalam suasana saling menghormati.
Ia berharap peringatan HUT ke-30 Kabupaten Mimika menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan, mencegah terulangnya konflik antarkelompok, serta mendorong seluruh masyarakat mengambil bagian dalam menciptakan masa depan Mimika yang lebih damai dan sejahtera.









