{"id":35722,"date":"2026-02-16T12:14:35","date_gmt":"2026-02-16T03:14:35","guid":{"rendered":"https:\/\/www.suaranewspapua.com\/?p=35722"},"modified":"2026-02-16T12:14:37","modified_gmt":"2026-02-16T03:14:37","slug":"tokoh-adat-tabi-stop-senjata-papua-sudah-final-nkri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/suaranewspapua.com\/index.php\/2026\/02\/16\/tokoh-adat-tabi-stop-senjata-papua-sudah-final-nkri\/","title":{"rendered":"Tokoh Adat Tabi: Stop Senjata, Papua Sudah Final NKRI"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jayapura &#8211; Di Papua, suara tembakan kadang lebih cepat terdengar daripada suara sekolah. Di beberapa kampung, cerita tentang anak yang pergi ke hutan membawa senjata lebih sering muncul daripada cerita anak yang berangkat membawa buku. Di tanah yang begitu kaya, rakyat kecil justru kerap hidup dalam rasa cemas: cemas ketika malam turun, cemas ketika jalanan sepi, cemas ketika kabar buruk datang dari ujung kampung.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di tengah situasi itu, Hironimus Taime, Tokoh Adat Tabi dari Jayapura, menyampaikan seruan yang tidak hanya keras, tetapi juga penuh kepedihan. Seruan itu ia tujukan kepada generasi muda Papua yang masih memilih jalan senjata dengan alasan \u201cberjuang\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cAdik-adik Papua yang bergerak dengan alasan berjuang untuk Papua Merdeka, banyak yang tidak paham, atau paham tapi paksa diri,\u201d kata Hiro.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia tidak sedang bicara dari ruang seminar ber-AC. Ia bicara sebagai orang Papua, sebagai tokoh adat, yang melihat luka-luka itu dari dekat. Luka yang tidak selalu tampak di televisi. Luka yang tinggal dalam tubuh masyarakat: anak-anak yang tumbuh dengan trauma, mama-mama yang menyimpan takut, dan kampung-kampung yang tertinggal karena hidup terlalu lama dalam bayang-bayang konflik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bukan Lagi Soal Wacana, Tapi Soal Nyawa<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi Hiro, perdebatan tentang status Papua sudah terlalu sering dijadikan bahan bakar emosi. Padahal, ia menegaskan, secara internasional Papua sudah diputuskan sejak lama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cPapua kita sudah dibagi dengan hukum internasional melalui resolusi PBB\u2026 terakhir ditetapkan dengan Resolusi Nomor 2504 Tahun 1969 pasca Referendum PEPERA,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun yang paling ia tekankan bukan sekadar resolusi atau dokumen. Yang ia tekankan adalah harga yang dibayar rakyat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cHitung saja sudah berapa nyawa melayang?\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalimat itu terdengar sederhana, tapi berat. Karena di Papua, kematian sering tidak tercatat sebagai angka. Ia tercatat sebagai cerita duka. Sebagai rumah yang tiba-tiba kehilangan anak. Sebagai mama yang berhenti tersenyum. Sebagai kampung yang mendadak sepi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSenjata Itu Bukan Jalan Pulang\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hiro menyebut gerakan bersenjata selama ini masih memakai pola lama: perang konvensional. Bagi sebagian orang, itu terlihat gagah. Tapi bagi Taime, itu justru seperti bunuh diri perlahan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cGerakan bersenjata itu modelnya konvensional. Yang penting pegang senjata dan perang menembak atau ditembak. Itu sama dengan taruh nyawa di ujung senjata itu sendiri,\u201d tegasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia tahu, senjata memberi rasa \u201ckuat\u201d sesaat. Tapi ia juga tahu, senjata jarang membawa pulang siapa pun dengan utuh. Yang pulang sering hanya kabar kematian. Atau luka panjang yang tak bisa disembuhkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Papua Tidak Datang Belakangan<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam narasinya, Hiro Taime mengajak orang Papua untuk kembali menengok sejarah. Ia menegaskan bahwa orang Papua bukan sekadar \u201cikut\u201d Indonesia. Orang Papua sudah hadir sejak awal perjalanan kebangsaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia menyebut bahwa tokoh Papua pernah hadir dalam Kongres Pemuda 1928 di Batavia, peristiwa yang melahirkan Sumpah Pemuda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSejarah mencatat 27 tahun sebelum Indonesia merdeka, Orang Asli Papua sudah bersuara untuk Indonesia merdeka,\u201d kata Taime.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi Hiro Taime, fakta itu penting. Sebab banyak generasi muda Papua tumbuh dengan narasi bahwa Papua adalah korban sejarah. Padahal, dalam catatan sejarah, orang Papua ikut menorehkan tanda tangan kebangsaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cNKRI itu tanggung jawab bersama putra-putri Nusantara,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang Membuat Papua Retak Bukan Cuma Politik, Tapi Luka Sosial<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Taime menyebut bahwa narasi Papua Merdeka sejak 1961 adalah proyek Belanda. Ia menegaskan bahwa konflik panjang yang terjadi tidak bisa dilepaskan dari jejak kolonial.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cPapua Merdeka itu buatan orang Belanda,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, Taime tidak berhenti di sana. Ia membawa isu itu ke sesuatu yang lebih dekat: bagaimana konflik memecah orang Papua sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cNiat baik bantuan atau kebijakan apa pun bisa membuat masyarakat pecah belah kalau kita tidak hati-hati,\u201d kata Taime dalam bagian lain seruannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi Taime, konflik bukan hanya soal \u201csiapa benar dan siapa salah\u201d. Konflik adalah soal bagaimana masyarakat perlahan kehilangan rasa aman.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pepera Dipersoalkan? Taime: Itu Tidak Paham Adat<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu bagian yang paling tegas dalam pernyataan Taime adalah saat ia menanggapi kritik tentang Pepera yang tidak memakai sistem One Man One Vote.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKalau orang Papua mempersoalkan PEPERA itu tidak melibatkan semua orang Papua melalui One Man One Vote, itu sama dengan orang Papua tidak tahu adat,\u201d tegasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia menjelaskan bahwa dalam struktur adat, keputusan memang diwakili oleh kepala suku. Sama seperti sistem noken dalam pemilu yang diakui negara karena menghormati tradisi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sini, Taime seperti ingin berkata: jangan pakai kacamata luar untuk menghakimi cara Papua mengambil keputusan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang Dibutuhkan Papua: Air Bersih, Sekolah, Klinik<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah berbicara soal sejarah dan hukum, Taime kembali ke hal paling nyata: kebutuhan dasar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia menyebut satu per satu: rumah layak huni, jalan dan jembatan, pasar, pertanian, perikanan, sekolah, klinik, puskesmas, listrik, air bersih.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cMari kita bangun kampung halaman supaya terang rumah dan jalan, kantor dan sekolah, klinik dan puskesmas\u2026 air bersih hadir di rumah-rumah,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalimat itu terasa seperti doa. Seperti harapan seorang tua kepada tanahnya sendiri. Harapan yang sederhana, tapi selama ini sulit diwujudkan jika konflik terus berulang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cDaripada perang paling cuma tinggalkan air mata dan duka,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tentang Investasi dan Hak Ulayat: \u201cJangan Sampai Orang Luar Ambil Semua\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Taime juga mengingatkan bahwa Papua memang menjadi incaran investor asing. Karena itu, menurutnya, masyarakat pemilik hak ulayat harus cerdas menjaga tanahnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cPapua memang diincar investor asing. Masyarakat pemilik hak ulayat harus jaga bersama pemerintah,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia mencontohkan bagaimana Freeport sejak 1996 memiliki skema dana sosial yang kemudian berkembang menjadi lembaga seperti YPMAK. Walau belum sempurna, Taime menganggap itu contoh bahwa investasi harus memberi manfaat langsung.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun ia memberi catatan paling tajam: semuanya harus dikelola dengan jujur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cJujur urus uang itu untuk tolong masyarakat,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Akhirnya: Ini Tentang Pulang, Bukan Menang<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Taime menutup seruannya dengan nada yang sangat Papua: hangat, tapi tegas. Ia mengajak semua pihak berdamai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cLebih baik sadar dan rekonsiliasi (berdamai) supaya jaga Papua tetap aman dan damai,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia tidak sedang berbicara tentang menang atau kalah. Ia berbicara tentang pulang. Pulang ke rumah yang aman. Pulang ke kampung yang terang. Pulang ke Papua yang tidak lagi menyimpan tangis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTuhan sayang ketong semua, mari baku sayang yah,\u201d tutupnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jayapura &#8211; Di Papua, suara tembakan kadang lebih cepat terdengar daripada suara sekolah. Di beberapa kampung, cerita tentang anak yang pergi ke hutan membawa senjata lebih sering muncul daripada cerita anak yang berangkat membawa buku. Di tanah yang begitu kaya, rakyat kecil justru kerap hidup dalam rasa cemas: cemas ketika malam turun, cemas ketika jalanan<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":35723,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5489,32,2814,5093],"tags":[7317,1861],"class_list":["post-35722","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-utama","category-hukumkriminal","category-imbauan","category-kamtibmas","tag-humanis","tag-papua-2"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/suaranewspapua.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35722","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/suaranewspapua.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/suaranewspapua.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/suaranewspapua.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/suaranewspapua.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=35722"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/suaranewspapua.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35722\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":35724,"href":"https:\/\/suaranewspapua.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35722\/revisions\/35724"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/suaranewspapua.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/35723"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/suaranewspapua.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=35722"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/suaranewspapua.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=35722"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/suaranewspapua.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=35722"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}