{"id":1055,"date":"2020-07-09T13:31:41","date_gmt":"2020-07-09T04:31:41","guid":{"rendered":"https:\/\/www.suaranewspapua.com\/?p=1055"},"modified":"2020-07-09T13:31:44","modified_gmt":"2020-07-09T04:31:44","slug":"memerdekakan-papua-dari-ketertinggalan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/suaranewspapua.com\/index.php\/2020\/07\/09\/memerdekakan-papua-dari-ketertinggalan\/","title":{"rendered":"Memerdekakan Papua dari Ketertinggalan"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Suaranewspapua.com-<\/strong> Pendidikan adalah jembatan emas menuju perbaikan kehidupan. Itulah yang tertanam di benak Reimon Philips Ikari (27), kepala Sekolah Lentera Harapan (SLH) di Distrik Nalca, Kabupaten Yahukimo, Papua.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagai putra asli Papua kelahiran Jayapura, dia melihat hal terpenting yang harus dilakukannya adalah membantu memerdekakan anak-anak Papua dari ketertinggalan dan kemiskinan. \u201cDan jalan untuk itu hanyalah lewat pendidikan,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Reimon sudah 6 tahun mengajar di SLH sejak lulus dari Teachers School Universitas Pelita Harapan (SPH) pada 2014. SLH di Nalca yang dipimpinnya sudah berdiri sejak 4 tahun lalu. Sebagai kepala sekolah, di usia yang tergolong muda, dia bertanggung jawab terhadap 136 siswa TK dan SD, serta memimpin 6 sejawat guru.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kepala Sekolah Lentera Harapan (SLH) di pedalaman Distrik Nalca, Kabupaten Yahukimo, Papua, Reimon Philips Ikari (kanan) dan guru SLH Henny Pradiastuti (kiri), berfoto bersama pendiri Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP) James Riady (tengah).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagaimana SLH lain di pedalaman Papua, lokasi sekolah hanya lima menit berjalan kaki dari lapangan terbang perintis. Siswa SLH Nalca berasal dari 7 distrik di sekitarnya, yang mayoritas warganya merupakan Suku Mek.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Belajar dari Kesederhanaan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi Reimon, banyak hal yang justru didapatnya dengan mengajar di pedalaman. \u201cKehidupan sederhana telah mengajari saya. Kami belajar saling berbagi. Ada murid membakar ubi dan membagi ke saya,\u201d kenangnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hal itu mengubah pandangannya mengenai belajar-mengajar. \u201cDulu saya berpikir, guru serba mengatur murid. Dari pengalaman di sini, saya menyadari menjadi guru harus mencintai anak didiknya,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi guru lainnya, mengajar di pedalaman Papua juga adalah panggilan hati. Di antara mereka bahkan tak bercita-cita menginjakkan kaki, apalagi tinggal di wilayah pegunungan, di tengah-tengah belantara Papua.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"451\" src=\"https:\/\/www.suaranewspapua.com\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/1594220031-1.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1058\" srcset=\"https:\/\/suaranewspapua.com\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/1594220031-1.jpg 800w, https:\/\/suaranewspapua.com\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/1594220031-1-300x169.jpg 300w, https:\/\/suaranewspapua.com\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/1594220031-1-768x433.jpg 768w, https:\/\/suaranewspapua.com\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/1594220031-1-696x392.jpg 696w, https:\/\/suaranewspapua.com\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/1594220031-1-745x420.jpg 745w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cAwalnya, ini tempat yang saya tidak mau datangi. Saya sempat menangis karena ditempatkan di sini, di daerah pedalaman,\u201d tutur Henny Pradiastuti (23). Perempuan asal Bekasi, Jabar, ini adalah lulusan Teachers School UPH tahun 2018.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebelum di Nalca, Henny sempat ditempatkan di SLH Mamit, Kabupaten Tolikara, Papua. Di situ dia melakukan penelitian selama 4 bulan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Henny Pradiastuti, guru asal Bekasi, sedang mengajar murid-murid TK di Sekolah Lentera Harapan (SLH) di Distrik Nalca, Kabupaten Yahukimo, Papua.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pengalamannya di Mamit mengubah pandangannya terhadap pedalaman Papua. \u201cDi sini saya akhirnya bisa belajar apa arti keluarga, kebersamaan, apa arti komunitas yang sebenarnya, dan yang terpenting belajar berempati sebagai sesama bangsa Indonesia,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu yang mendorong Henny akhirnya mau mengabdikan diri di Papua karena merasa malu dengan misionaris asing yang lebih dahulu menginjakkan kaki di Tanah Papua, dan hidup menyatu dengan warga asli. \u201cMereka yang orang asing justru lebih peduli kepada Papua daripada kita. Bahkan saya yang orang Indonesia tidak tahu kalau ada orang Indonesia yang belum merasakan pendidikan,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pengalaman bersama murid dan guru-guru di Mamit menjadi alasan baginya ketika wawancara dengan Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP) yang menaungi SLH di Papua, meminta untuk kembali ditempatkan di pedalaman. \u201cSaya bersyukur, doa saya terkabul, dan saya kini berada di Nalca,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Akhirnya, Henny pun merasa bersuka cita untuk membantu mencerdaskan anak-anak Papua di pedalaman. \u201cKeluarga saya tidak setuju. Tapi saya percaya, Tuhan yang mengirim saya ke sini. Tuhan pula yang akan menjaga saya di sini, dan juga keluarga saya,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Harapan Orang Tua<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kehadiran SLH di Papua tak bertepuk sebelah tangan. Orang tua mulai menyadari pentingnya pendidikan, sehingga dengan suka cita menyekolahkan anak-anak mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Walian, orang tua Eta, murid SLH di Mamit, Distrik Kembu, Tolikara, rela mengantar anaknya setiap hari. \u201cKami tinggal di balik bukti. Harus berjalan kaki 1,5 jam setiap hari. Saya ingin anak saya menjadi pintar dan menjadi pemimpin di Papua,\u201d ujarnya bersemangat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Walian dan anaknya, Eta, di Sekolah Lentera Harapan (SLH) di Mamit, Distrik Kembu, Kabupaten Tolikara, Papua. Demi pendidikan anaknya, Walian setiap hari mengantar sang anak berjalan kaki 1,5 jam ke sekolah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Harapannya mulai terwujud, Eta yang duduk di kelas 3, sudah mulai memahami fungsi paru-paru dan pernapasan manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Harapan yang sama disampaikan Pontius, yang anaknya duduk di kelas 7. Dia menyekolahkan anaknya di SLH Mamit mulai dari kelas 1.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"451\" src=\"https:\/\/www.suaranewspapua.com\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/1594220338.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1059\" srcset=\"https:\/\/suaranewspapua.com\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/1594220338.jpg 800w, https:\/\/suaranewspapua.com\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/1594220338-300x169.jpg 300w, https:\/\/suaranewspapua.com\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/1594220338-768x433.jpg 768w, https:\/\/suaranewspapua.com\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/1594220338-696x392.jpg 696w, https:\/\/suaranewspapua.com\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/1594220338-745x420.jpg 745w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSaya bersyukur ada sekolah yang lebih baik kualitasnya dari sekolah yang ada sebelumnya. Apalagi, sekolah ini juga memperhatikan pendidikan iman,\u201d ujar Pontius yang sehari-hari bekerja sebagai PNS tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Suasana belajar-mengajar di Sekolah Lentera Harapan (SLH) di Distrik Kembu, Kabupaten Tolikara, Papua.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">SLH di Mamit adalah sekolah pertama yang dirintis YPHP 7 tahun silam. Dari 8 sekolah yang dibangun YPHP di pedalaman Papua, SLH Mamit memiliki murid paling banyak, 224 siswa, mulai dari TK hingga kelas 7.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Suaranewspapua.com- Pendidikan adalah jembatan emas menuju perbaikan kehidupan. Itulah yang tertanam di benak Reimon Philips Ikari (27), kepala Sekolah Lentera Harapan (SLH) di Distrik Nalca, Kabupaten Yahukimo, Papua. Sebagai putra asli Papua kelahiran Jayapura, dia melihat hal terpenting yang harus dilakukannya adalah membantu memerdekakan anak-anak Papua dari ketertinggalan dan kemiskinan. \u201cDan jalan untuk itu hanyalah<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":1056,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[70,234,257],"tags":[302],"class_list":["post-1055","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini","category-pembangunan","category-pendidikan","tag-memerdekakan-papua-dari-ketertinggalan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/suaranewspapua.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1055","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/suaranewspapua.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/suaranewspapua.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/suaranewspapua.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/suaranewspapua.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1055"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/suaranewspapua.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1055\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/suaranewspapua.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1056"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/suaranewspapua.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1055"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/suaranewspapua.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1055"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/suaranewspapua.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1055"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}